SANG JEMBATAN HATI. Aku berada di antara kemarin dan esok, dan Anda akan selalu ada di lubuk hatiku.
22 Juni, 2013
03 Mei, 2013
27 April, 2013
13 Juli, 2012
Mars IPTEK
Lyrik : Gusti Muhammad Hatta
Lagu : Medy P Sargo
Membangun Negeri tercinta asa kami
Segala daya upaya bergelora
Demi wujudkan mimpi Ibu Pertiwi
Dengan IPTEK kami berbakti
Mengukir harapan kokohkan Negeri
Kami ikhlas mengabdi sepenuh hati
Menjunjung tinggi kehormatan bangsaku
Bersinergi, berkordinasi
Jayalah IPTEK, Jayalah Negeri
Karya cemerlang bangsa gemilang
Jayalah IPTEK, Jayalah Negeri
Indonesia gemilang
06 Juli, 2012
Mobil Listrik, Mustahil Tanpa Paten
Kegemasan saya pada sikap budaya peneliti yang kurang peduli pada masalah paten, tergambar pada artikel saya tentang "Pengganti Mobil Konvensional" yang dimuat di Koran-Jakarta tanggal 4 Juli 2012. Suatu kenyataan bahwa paten tidak dianggap penting, dan selalu dianggap hanya sebuah persoalan hukum. Padahal konsep paten mengajarkan kepada kita bahwa ketika kita menghasilkan suatu invensi maka harus berani untuk dibuktikan ke-"baruan"-nya sebelum kita terlanjur memperdagangkannya yang bisa mengundang tuntutan hukum dari pihak lain. Yang tertarik silahkan klik:
http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/94817
04 Juni, 2011
Lyrik : HYMNE INSAN IPTEK
Lyrik dan Lagu : Medy P Sargo
INSAN IPTEK INDONESIA BERJAYA
KAU ABDIKAN ILMU PADA NUSA BANGSA
JASAMU ABADI 'TUK SELAMANYA
ENGKAU WUJUDKAN HARAPAN BANGSAMU
INSAN IPTEK YANG BERAKHLAK MULIA
KIPRAHMU MENGILHAMI SELURUH NEGERI
INOVASIMU SUMBANGSIHMU
PADA NEGERIMU HINGGA SEJAHTERA
WAHAI INSAN IPTEK YANG MULIA
KAN KUKENANG 'TUK SLAMA-LAMANYA
DI ANTARA GEMPITA IPTEK DUNIA
KAU HADIR MENGHARUMKAN BANGSA
INSAN IPTEK INDONESIA BERJAYA
KAU ABDIKAN ILMU PADA NUSA BANGSA
JASAMU ABADI 'TUK SELAMANYA
ENGKAU WUJUDKAN HARAPAN BANGSAMU (2 X)
(Dikumandangkan pertamakalinya pada 10 Agustus 2011 di PUSPIPTEK Serpong dalam rangka Peringatan HAKTEKNAS yang dihadiri Presiden RI.)
INSAN IPTEK INDONESIA BERJAYA
KAU ABDIKAN ILMU PADA NUSA BANGSA
JASAMU ABADI 'TUK SELAMANYA
ENGKAU WUJUDKAN HARAPAN BANGSAMU
INSAN IPTEK YANG BERAKHLAK MULIA
KIPRAHMU MENGILHAMI SELURUH NEGERI
INOVASIMU SUMBANGSIHMU
PADA NEGERIMU HINGGA SEJAHTERA
WAHAI INSAN IPTEK YANG MULIA
KAN KUKENANG 'TUK SLAMA-LAMANYA
DI ANTARA GEMPITA IPTEK DUNIA
KAU HADIR MENGHARUMKAN BANGSA
INSAN IPTEK INDONESIA BERJAYA
KAU ABDIKAN ILMU PADA NUSA BANGSA
JASAMU ABADI 'TUK SELAMANYA
ENGKAU WUJUDKAN HARAPAN BANGSAMU (2 X)
(Dikumandangkan pertamakalinya pada 10 Agustus 2011 di PUSPIPTEK Serpong dalam rangka Peringatan HAKTEKNAS yang dihadiri Presiden RI.)
28 Mei, 2011
Lyrik "Gemilang Bangsa" : Mars BPPT
Lagu : Medy P. Sargo
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
Mengemban tugas bangsa Indonesia
Kembangkan Teknologi demi kemandirian bangsa
Dilandasi iman dan taqwa kepada Tuhan
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
Wujud semangat bangsa mengejar cita
Menyokong dan mengisi pembangunan negeri kita
Gunakan teknologi tuk kejayaan bangsa
Bersatu padulah perekayasa teknologi
Bahu membahu mewujudkan cita-cita bangsa
Teguh kukuh menempuh haluan
Menghimpun segala daya
Berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang
Dasar Empat Lima
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
Wujud semangat bangsa mengejar cita
Menyokong dan mengisi pembangunan negeri kita
Gemilanglah bangsaku Indonesia
(Dikumandangkan pertamakalinya pada 16 Agustus 2009 di PUSPIPTEK Serpong dalam rangka memeriahkan Peringatan HUT BPPT ke 31)
15 Mei, 2011
Dahlan Iskan Bicara, Dengarkan !
Di bawah ini adalah tulisan Pak Dahlan Iskan, Direktur Utama PLN. Saya peroleh dari tetangga dan saya copas, tanpa terlebih dahulu minta ijin Pak Dahlan. Tetapi saya berani menanggung akibatnya jika Pak Dahlan tidak berkenan. Saya terdorong oleh tulisannya tersebut untuk menyebarkan agar diketahui oleh anak bangsa, khususnya mereka yang begitu memuja negara-negara liberal. Banyak pesan yang tersurat dan tersirat dari tulisan Pak Dahlan ini. Bagi kita semua sudah waktunya membuka mata dan melihat kenyataan yang dihadapi Indonesia, mulai dari kerakusan ”mitra (?)” dagang dan ”kebodohan=ketidak berdayaan” para pengambil keputusan di negeri ini menghadapi kebijakan luar negeri negara-negara adi kuasa. Silahkan simak. Jika anda kemudian menyalahkan para pengambil keputusan, silahkan, saya mungkin sependapat. Tetapi jika anda menyalahkan bangsa ini secara keseluruhan, maka anda adalah.......... (pikirkan sendiri).
KUASAI TEKNOLOGI PEMBANGKIT CANGGIH SAAT KEPEPET
Jum’at, 06 Mei 2011
Baru sekali ini saya ke Iran. Kalau saja PLN tidak mengalami kesulitan mendapatkan gas dari dalam negeri, barangkali tidak akan ada pikiran untuk melihat kemungkinan mengimpor gas dari Negara Para Mullah ini. Sudah setahun lebih PLN berjuang untuk mendapatkan gas dari negeri sendiri. Tapi, hasilnya malah sebaliknya. Jatah gas PLN justru diturunkan terus-menerus.
Kalau awal 2010 PLN masih mendapatkan jatah gas 1.100 MMSCFD (million metric standard cubic feet per day atau juta standar metrik kaki kubik per hari), saat tulisan ini dibuat justru tinggal 900 MMSCFD. Perjuangan untuk mendapatkan tambahan gas yang semula menunjukkan tanda-tanda berhasil belakangan redup kembali. Gas memang sulit diraba sehingga tidak bisa terlihat ke mana larinya.
Bisa jadi gas itu akan berbelok-belok dulu entah ke mana, baru dari sana dijual ke PLN dengan harga yang sudah berbeda. Padahal, PLN memerlukan 1,5 juta MMSCFD gas. Kalau saja PLN bisa mendapatkan gas sebanyak itu, penghematannya bisa mencapai Rp 15 triliun setiap tahun. Angka penghematan yang mestinya menggiurkan siapa pun.Maka, saya memutuskan ke Iran. Apalagi, upaya mengatasi krisis listrik sudah berhasil dan menuntaskan daftar tunggu yang panjang itu pasti bisa selesai bulan depan.
Kini waktunya perjuangan mendapatkan gas ditingkatkan. Termasuk, apa boleh buat, ke negara yang sudah sejak 1980-an diisolasi oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya itu. Siapa tahu ada harapan untuk menyelesaikan persoalan pokok PLN sekarang ini: efisiensi.
Sumber pemborosan terbesar PLN adalah banyaknya pembangkit listrik yang “salah makan”. Sekitar 5.000 MW pembangkit yang seharusnya diberi makan gas sudah puluhan tahun diberi makan minyak solar yang amat mahal. Salah makan itulah yang membuat kembung perut PLN selama ini.
Kebetulan Iran memang sedang memasarkan gas dalam bentuk cair (LNG). Iran sedang membangun proyek LNG besar-besaran di kota Asaleuyah di pantai Teluk Parsi. Saya ingin tahu benarkah proyek itu bisa jadi "Bukankah Iran sudah 30 tahun lebih dimusuhi dan diisolasi secara ekonomi oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya dari seluruh dunia” Bukankah begitu banyak yang meragukan Iran bisa mendapatkan teknologi tinggi untuk membangun proyek LNG besar-besaran?
Saya pun terbang ke Asaleuyah, dua jam penerbangan dari Teheran. Meski Asaleuyah kota kecil, ternyata banyak sekali penerbangan ke kota yang hanya dipisahkan oleh laut 600 km dari Qatar itu. Bandaranya kecil, tapi cukup baik. Masih baru dan statusnya internasional. Pesawat-pesawat lokal, seperti Aseman Air, terbang ke sana. Itulah kota yang memang baru saja berkembang dengan pesatnya. Iran memang menjadikan kota Asaleuyah sebagai pusat industri minyak, gas, dan petrokimia. Beratus-ratus hektare tanah di sepanjang pantai itu kini penuh dengan rangkaian pipa-pipa kilang minyak, kilang petrokimia, dan instalasi pembuatan LNG.
Saya heran bagaimana Iran bisa mendapatkan semua teknologi itu pada saat Iran sedang diisolasi oleh dunia Barat. Memang terasa jalannya proyek tidak bisa cepat, tapi sebagian besar sudah jadi. Kilang minyaknya, kilang petrokimianya, kilang etanolnya sudah beroperasi dalam skala yang raksasa. Hanya kilang LNG-nya yang masih dalam pembangunan dan kelihatannya akan selesai dua tahun lagi. Memang, kalau saja Iran tidak diembargo, proyek-proyek itu pasti bisa lebih cepat. Namun, Iran tidak menyerah. Iran membuat sendiri banyak teknologi yang dibutuhkan di situ. Hanya bagian-bagian tertentu yang masih dia datangkan dari luar. Entah dengan cara apa dan entah lewat mana. Yang jelas, barang-barang itu bisa ada. Orang, kalau kepepet, biasanya memang banyak akalnya. Asal tidak mudah menyerah. Demikian juga, Iran.
Bahkan, untuk memenuhi keperluan listrik untuk industri petrokimia itu, Iran akhirnya bisa membuat pembangkit sendiri. Termasuk bisa membuat bagian yang paling sulit di pembangkit listrik: turbin. Maka, Iran kini sudah berhasil menguasai teknologi pembangkit listrik tenaga gas, baik open cycle maupun combine cycle.
Kemampuan membuat pembangkit listrik itu pun semula agak saya ragukan. Belum pernah terdengar ada negara Islam yang mampu membuat pembangkit listrik secara utuh. Karena itu, setelah meninjau proyek LNG, saya minta diantar ke pabrik turbin itu. Saya ingin melihat sendiri bagaimana Iran dipaksa keadaan untuk mengatasi sendiri kesulitan teknologinya. Ternyata benar. Pabrik turbin itu sangat besar. Bukan hanya bisa merangkai, tetapi juga membuat keseluruhannya. Bahkan, sudah mampu membuat blade-blade turbin sendiri. Termasuk mampu menguasai teknologi coating blade yang bisa meningkatkan efisiensi turbin.
Baru sepuluh tahun Iran menekuni alih teknologi pembangkit listrik itu.Sekarang Iran sudah memproduksi 225 unit turbin dari berbagai ukuran. Mulai 25 MW hingga 167 MW. Bahkan, Iran sudah mulai mengekspor turbin ke Lebanon, Syria, dan Iraq. Bulan depan sudah pula mengekspor suku cadang turbin ke India. Bulan lalu pabrik turbin Iran merayakan produksi blade-nya yang ke-80.000 unit! Kesimpulan saya: inilah negara Islam pertama yang mampu membuat turbin dan keseluruhan pembangkit listriknya. Saya dan rombongan PLN diberi kesempatan meninjau semua proses produksinya. Mulai A hingga Z. Termasuk memasuki laboratorium metalurginya.
Dengan kemampuannya itu, untuk urusan listrik, Iran bisa mandiri.Bahkan, untuk pemeliharaan pembangkit-pembangkit listrik yang lama, Iran tidak bergantung lagi kepada pabrik asalnya. Mesin-mesin Siemens lama dari Jerman atau GE dari USA bisa dirawat sendiri. Iran sudah bisa memproduksi suku cadang untuk semua mesin pembangkit Siemens dan GE. Bahkan, mereka sudah dipercaya Siemens untuk memasok ke negara lain. “Anak perusahaan kami sanggup memelihara pembangkit-pembangkit listrik PLN dengan menggunakan suku cadang dari sini,” kata manajer di situ.
Pabrik tersebut memiliki 32 anak perusahaan, masing-masing menangani bidang yang berbeda di sektor listrik. Termasuk ada anak perusahaan yang khusus bergerak di bidang pemeliharaan dan operasi pembangkitan.Bisnis kelihatannya tetap bisnis. Saya tidak habis pikir bagaimana Iran tetap bisa mendapatkan alat-alat produksi turbin berupa mesin-mesin dasar kelas satu buatan Eropa: Italia, Jerman, Swiss, dan seterusnya. Saya juga tidak habis pikir bagaimana pabrik pembuatan turbin itu bisa mendapatkan lisensi dari Siemens.
Rupanya, meski membenci Amerika dan sekutunya, Iran tidak sampai membenci produk-produknya. Iran membenci Amerika hanya karena Amerika membantu Israel. Itu jauh dari bayangan saya sebelum datang ke Iran. Saya pikir Iran membenci apa pun yang datang dari Amerika. Ternyata tidak. Bahkan, Coca-Cola dijual secara luas di Iran. Demikian juga, Pepsi dan Miranda. Belum lagi Gucci, Prada, dan seterusnya.Intinya: dengan diembargo Amerika Serikat dan sekutunya, Iran hanya mengalami kesulitan pada tahun-tahun pertamanya. Kesulitan itu membuat Iran kepepet, bangkit, dan mandiri. Kesulitan itu tidak sampai membuatnya miskin, apalagi bangkrut. Justru Iran dipaksa menguasai beberapa teknologi yang semula menjadi ketergantungannya.
Banyaknya proyek yang sedang dikerjakan sekarang menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi Iran terus berjalan. Mulai pengembangan bandara di mana-mana, pembangunan jalan laying, hingga ke industri dasar. Tidak ketinggalan pula industri mobil.
Kegiatan ekonomi di Iran memang tidak gegap gempita seperti Tiongkok, tapi tetap terasa menggeliat. Pertumbuhan ekonominya sudah bisa direncanakan enam persen tahun ini. Mulai meningkat drastis jika dibandingkan dengan tahun-tahun pertama sanksi ekonomi diberlakukan. “Sebelum ada sanksi ekonomi, Iran hanya mampu memproduksi 300.000 mobil setahun. Sekarang ini Iran memproduksi 1,5 juta mobil setahun,” ujar seorang CEO perusahaan terkemuka di Iran. (bersambung)
Dahlan Iskan
CEO PLN
KUASAI TEKNOLOGI PEMBANGKIT CANGGIH SAAT KEPEPET
Jum’at, 06 Mei 2011
Baru sekali ini saya ke Iran. Kalau saja PLN tidak mengalami kesulitan mendapatkan gas dari dalam negeri, barangkali tidak akan ada pikiran untuk melihat kemungkinan mengimpor gas dari Negara Para Mullah ini. Sudah setahun lebih PLN berjuang untuk mendapatkan gas dari negeri sendiri. Tapi, hasilnya malah sebaliknya. Jatah gas PLN justru diturunkan terus-menerus.
Kalau awal 2010 PLN masih mendapatkan jatah gas 1.100 MMSCFD (million metric standard cubic feet per day atau juta standar metrik kaki kubik per hari), saat tulisan ini dibuat justru tinggal 900 MMSCFD. Perjuangan untuk mendapatkan tambahan gas yang semula menunjukkan tanda-tanda berhasil belakangan redup kembali. Gas memang sulit diraba sehingga tidak bisa terlihat ke mana larinya.
Bisa jadi gas itu akan berbelok-belok dulu entah ke mana, baru dari sana dijual ke PLN dengan harga yang sudah berbeda. Padahal, PLN memerlukan 1,5 juta MMSCFD gas. Kalau saja PLN bisa mendapatkan gas sebanyak itu, penghematannya bisa mencapai Rp 15 triliun setiap tahun. Angka penghematan yang mestinya menggiurkan siapa pun.Maka, saya memutuskan ke Iran. Apalagi, upaya mengatasi krisis listrik sudah berhasil dan menuntaskan daftar tunggu yang panjang itu pasti bisa selesai bulan depan.
Kini waktunya perjuangan mendapatkan gas ditingkatkan. Termasuk, apa boleh buat, ke negara yang sudah sejak 1980-an diisolasi oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya itu. Siapa tahu ada harapan untuk menyelesaikan persoalan pokok PLN sekarang ini: efisiensi.
Sumber pemborosan terbesar PLN adalah banyaknya pembangkit listrik yang “salah makan”. Sekitar 5.000 MW pembangkit yang seharusnya diberi makan gas sudah puluhan tahun diberi makan minyak solar yang amat mahal. Salah makan itulah yang membuat kembung perut PLN selama ini.
Kebetulan Iran memang sedang memasarkan gas dalam bentuk cair (LNG). Iran sedang membangun proyek LNG besar-besaran di kota Asaleuyah di pantai Teluk Parsi. Saya ingin tahu benarkah proyek itu bisa jadi "Bukankah Iran sudah 30 tahun lebih dimusuhi dan diisolasi secara ekonomi oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya dari seluruh dunia” Bukankah begitu banyak yang meragukan Iran bisa mendapatkan teknologi tinggi untuk membangun proyek LNG besar-besaran?
Saya pun terbang ke Asaleuyah, dua jam penerbangan dari Teheran. Meski Asaleuyah kota kecil, ternyata banyak sekali penerbangan ke kota yang hanya dipisahkan oleh laut 600 km dari Qatar itu. Bandaranya kecil, tapi cukup baik. Masih baru dan statusnya internasional. Pesawat-pesawat lokal, seperti Aseman Air, terbang ke sana. Itulah kota yang memang baru saja berkembang dengan pesatnya. Iran memang menjadikan kota Asaleuyah sebagai pusat industri minyak, gas, dan petrokimia. Beratus-ratus hektare tanah di sepanjang pantai itu kini penuh dengan rangkaian pipa-pipa kilang minyak, kilang petrokimia, dan instalasi pembuatan LNG.
Saya heran bagaimana Iran bisa mendapatkan semua teknologi itu pada saat Iran sedang diisolasi oleh dunia Barat. Memang terasa jalannya proyek tidak bisa cepat, tapi sebagian besar sudah jadi. Kilang minyaknya, kilang petrokimianya, kilang etanolnya sudah beroperasi dalam skala yang raksasa. Hanya kilang LNG-nya yang masih dalam pembangunan dan kelihatannya akan selesai dua tahun lagi. Memang, kalau saja Iran tidak diembargo, proyek-proyek itu pasti bisa lebih cepat. Namun, Iran tidak menyerah. Iran membuat sendiri banyak teknologi yang dibutuhkan di situ. Hanya bagian-bagian tertentu yang masih dia datangkan dari luar. Entah dengan cara apa dan entah lewat mana. Yang jelas, barang-barang itu bisa ada. Orang, kalau kepepet, biasanya memang banyak akalnya. Asal tidak mudah menyerah. Demikian juga, Iran.
Bahkan, untuk memenuhi keperluan listrik untuk industri petrokimia itu, Iran akhirnya bisa membuat pembangkit sendiri. Termasuk bisa membuat bagian yang paling sulit di pembangkit listrik: turbin. Maka, Iran kini sudah berhasil menguasai teknologi pembangkit listrik tenaga gas, baik open cycle maupun combine cycle.
Kemampuan membuat pembangkit listrik itu pun semula agak saya ragukan. Belum pernah terdengar ada negara Islam yang mampu membuat pembangkit listrik secara utuh. Karena itu, setelah meninjau proyek LNG, saya minta diantar ke pabrik turbin itu. Saya ingin melihat sendiri bagaimana Iran dipaksa keadaan untuk mengatasi sendiri kesulitan teknologinya. Ternyata benar. Pabrik turbin itu sangat besar. Bukan hanya bisa merangkai, tetapi juga membuat keseluruhannya. Bahkan, sudah mampu membuat blade-blade turbin sendiri. Termasuk mampu menguasai teknologi coating blade yang bisa meningkatkan efisiensi turbin.
Baru sepuluh tahun Iran menekuni alih teknologi pembangkit listrik itu.Sekarang Iran sudah memproduksi 225 unit turbin dari berbagai ukuran. Mulai 25 MW hingga 167 MW. Bahkan, Iran sudah mulai mengekspor turbin ke Lebanon, Syria, dan Iraq. Bulan depan sudah pula mengekspor suku cadang turbin ke India. Bulan lalu pabrik turbin Iran merayakan produksi blade-nya yang ke-80.000 unit! Kesimpulan saya: inilah negara Islam pertama yang mampu membuat turbin dan keseluruhan pembangkit listriknya. Saya dan rombongan PLN diberi kesempatan meninjau semua proses produksinya. Mulai A hingga Z. Termasuk memasuki laboratorium metalurginya.
Dengan kemampuannya itu, untuk urusan listrik, Iran bisa mandiri.Bahkan, untuk pemeliharaan pembangkit-pembangkit listrik yang lama, Iran tidak bergantung lagi kepada pabrik asalnya. Mesin-mesin Siemens lama dari Jerman atau GE dari USA bisa dirawat sendiri. Iran sudah bisa memproduksi suku cadang untuk semua mesin pembangkit Siemens dan GE. Bahkan, mereka sudah dipercaya Siemens untuk memasok ke negara lain. “Anak perusahaan kami sanggup memelihara pembangkit-pembangkit listrik PLN dengan menggunakan suku cadang dari sini,” kata manajer di situ.
Pabrik tersebut memiliki 32 anak perusahaan, masing-masing menangani bidang yang berbeda di sektor listrik. Termasuk ada anak perusahaan yang khusus bergerak di bidang pemeliharaan dan operasi pembangkitan.Bisnis kelihatannya tetap bisnis. Saya tidak habis pikir bagaimana Iran tetap bisa mendapatkan alat-alat produksi turbin berupa mesin-mesin dasar kelas satu buatan Eropa: Italia, Jerman, Swiss, dan seterusnya. Saya juga tidak habis pikir bagaimana pabrik pembuatan turbin itu bisa mendapatkan lisensi dari Siemens.
Rupanya, meski membenci Amerika dan sekutunya, Iran tidak sampai membenci produk-produknya. Iran membenci Amerika hanya karena Amerika membantu Israel. Itu jauh dari bayangan saya sebelum datang ke Iran. Saya pikir Iran membenci apa pun yang datang dari Amerika. Ternyata tidak. Bahkan, Coca-Cola dijual secara luas di Iran. Demikian juga, Pepsi dan Miranda. Belum lagi Gucci, Prada, dan seterusnya.Intinya: dengan diembargo Amerika Serikat dan sekutunya, Iran hanya mengalami kesulitan pada tahun-tahun pertamanya. Kesulitan itu membuat Iran kepepet, bangkit, dan mandiri. Kesulitan itu tidak sampai membuatnya miskin, apalagi bangkrut. Justru Iran dipaksa menguasai beberapa teknologi yang semula menjadi ketergantungannya.
Banyaknya proyek yang sedang dikerjakan sekarang menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi Iran terus berjalan. Mulai pengembangan bandara di mana-mana, pembangunan jalan laying, hingga ke industri dasar. Tidak ketinggalan pula industri mobil.
Kegiatan ekonomi di Iran memang tidak gegap gempita seperti Tiongkok, tapi tetap terasa menggeliat. Pertumbuhan ekonominya sudah bisa direncanakan enam persen tahun ini. Mulai meningkat drastis jika dibandingkan dengan tahun-tahun pertama sanksi ekonomi diberlakukan. “Sebelum ada sanksi ekonomi, Iran hanya mampu memproduksi 300.000 mobil setahun. Sekarang ini Iran memproduksi 1,5 juta mobil setahun,” ujar seorang CEO perusahaan terkemuka di Iran. (bersambung)
Dahlan Iskan
CEO PLN
22 Maret, 2011
Cat Minyak Indonesia
Cat Minyak Indonesia
Kita adalah cat minyak yang siap digoreskan pada kanvas putih masa depan
Kanvas putih masa depan
Indonesia, walau tidak seputih yang kau harapkan
Tergantung kau, warna apa
yang hendak kau berikan pada anak-anakmu
Aku juga adalah cat
minyak yang kau campurkan di atas palet
Kau tuangkan cat berwarna
merah, biru, kuning, hitam dan putih
Entah apa yang akan kau
lukiskan di atas kanvas putih itu
Kau juga adalah cat minyak yang akan kucampurkan di atas palet
Sementara aku adalah cat
minyak yang berwarna pucat, dan kau ?
Sementara aku adalah
ekspresi keterpurukan dan kegagalan, dan kau ?
Kita adalah cat minyak berupa-rupa warna yang memberi kekuatan
Kau, menyatulah denganku
agar kita menjadi lukisan indah Indonesia.
( Medy P Sargo, Tangerang, 17 Nov 2010)
20 Maret, 2011
01 Maret, 2011
29 Desember, 2010
10 Desember, 2010
Wikileaks Sebuah Sandiwara Besar Dalam Konspirasi
Dengan demikian publik akan menilai begitu sedikit dosa yang dimiliki suatu negara adikuasa. Dan Wikileaks seperti halnya Al Qaeda adalah aktor yang dibayar mahal. Wuaaah... betapa hebatnya bangsa barat.
Lebih hebatnya lagi, betapa para pemimpin kita rela mengorbankan kepentingan bangsanya, dengan ikut serta dalam skenario negara-negara adikuasa. Tapi mungkinkah para kaum idealis juga akan memilih bersikap seperti itu jika kelak jadi pemimpin? Bagaimana tidak, setiap ada kehendak negara adikuasa, maka selalu berarti moncong meriam mereka diarahkan ke kening kita. Itulah gaya seorang cowboy.
Untuk meyakinkan publik bahwa memang terjadi kebocoran dokumen rahasia, maka wikileaks akan diberangus. Tetapi berita akan berhenti sampai di situ. Kita tidak akan pernah mengetahui yang sebenarnya. Dimanakah para aktor minum kopi setelah diadili? (DD Marimba)
04 Desember, 2010
Impian Seorang Melarat Bernama Kunyuk
Satu-satunya keinginan Kunyuk yang selalu diiringi doa setiap detiknya adalah mengharapkan kebangkitan kembali Bung Karno dari kuburnya, dan mengambil alih kekuasaan Negara untuk memimpin kembali bangsa ini menghadapi neo kolonialisme barat.
Kunyuk yang sudah keriput kulitnya walapun masih berusia muda, selalu teringat akan temannya yang kini menjadi Presiden negara adidaya United State of Amburadul, Beri Hasan Obambang.
Dalam benak Kunyuk, tak pernah terpikir masuk akal kalau Beri bisa lebih maju pendidikannya dari pada pendidikan Kunyuk yang putus di tengah jalan karena biaya. Padahal Beri hidup dari sumber alam yang dikeruk dari bumi Indonesia, sedangkan Kunyuk yang orang Indonesia asli tidak mampu hidup dari kekayaan alam negerinya sendiri.
Bahkan hari ini Kunyuk melihat kenyataan yang lebih pahit. Dia tidak bisa lagi mendapatkan bahan bakar kualitas tertentu yang harganya terjangkau. Kunyuk harus merelakan menggunakan bahan bakar berkualitas lebih baik dengan harga yang tak terjangkau.
Kunyuk harus memahami pula bahwa bahan bakar kualitas tertentu yang jatahnya dikurangi di negeri ini harus dikirim ke negara yang dipimpin Beri untuk keperluan militer.
Kunyuk juga sering bertanya-tanya, mengapa isu pemberantasan korupsi di negeri ini ceritanya selalu berseri. Tidak pernah ada akhirnya, seakan-akan tidak akan pernah selesai.
Kunyuk mencurigai, jangan-jangan isu pemberantasan korupsi yang berseri hanyalah semacam upaya pengalihan perhatian publik dari isu lain yang sebenarnya merupakan pangkal penyebab kemelaratan negeri ini. Tentu saja pengalihan ini adalah merupakan pesanan dengan intimidasi tertentu dari sebuah negara adidaya.
Sebab kenyataan sesungguhnya yang membuat negeri ini melarat adalah kerakusan negara adidaya dalam pembagian hasil usaha kontrak karya pertambangan yang tidak proporsional.
Mengapa negara adidaya memandang perlu memelaratkan negeri ini? Tentu saja, karena jika negeri ini makmur maka akan bisa membiayai serta memperkuat diri dalam berbagai bidang, seperti bidang iptek dan industri pertahanan.
Dengan memelaratkan Indonesia, negara adidaya itu tidak perlu memperkuat pertahanan negara-negara tetangga Indonesia secara berlebihan, seperti Singapore, Malaysia dan Filipina. Sebab sesungguhnya negara Adidaya itu pun tidak begitu mempercayai tiga negara tersebut.
Kunyuk hanya bisa berharap, para teknolog Indonesia agar mulai merubah sikap budaya dan orientasinya agar lebih berpihak pada kepentingan macro nasional. Tidak mudah terayu oleh iming-iming kehidupan lebih baik di negeri rantau. Membangun negeri ini untuk kemakmuran anak cucunya akan jauh lebih berarti dan bermartabat (Medy P Sargo)
Kunyuk yang sudah keriput kulitnya walapun masih berusia muda, selalu teringat akan temannya yang kini menjadi Presiden negara adidaya United State of Amburadul, Beri Hasan Obambang.
Dalam benak Kunyuk, tak pernah terpikir masuk akal kalau Beri bisa lebih maju pendidikannya dari pada pendidikan Kunyuk yang putus di tengah jalan karena biaya. Padahal Beri hidup dari sumber alam yang dikeruk dari bumi Indonesia, sedangkan Kunyuk yang orang Indonesia asli tidak mampu hidup dari kekayaan alam negerinya sendiri.
Bahkan hari ini Kunyuk melihat kenyataan yang lebih pahit. Dia tidak bisa lagi mendapatkan bahan bakar kualitas tertentu yang harganya terjangkau. Kunyuk harus merelakan menggunakan bahan bakar berkualitas lebih baik dengan harga yang tak terjangkau.
Kunyuk harus memahami pula bahwa bahan bakar kualitas tertentu yang jatahnya dikurangi di negeri ini harus dikirim ke negara yang dipimpin Beri untuk keperluan militer.
Kunyuk juga sering bertanya-tanya, mengapa isu pemberantasan korupsi di negeri ini ceritanya selalu berseri. Tidak pernah ada akhirnya, seakan-akan tidak akan pernah selesai.
Kunyuk mencurigai, jangan-jangan isu pemberantasan korupsi yang berseri hanyalah semacam upaya pengalihan perhatian publik dari isu lain yang sebenarnya merupakan pangkal penyebab kemelaratan negeri ini. Tentu saja pengalihan ini adalah merupakan pesanan dengan intimidasi tertentu dari sebuah negara adidaya.
Sebab kenyataan sesungguhnya yang membuat negeri ini melarat adalah kerakusan negara adidaya dalam pembagian hasil usaha kontrak karya pertambangan yang tidak proporsional.
Mengapa negara adidaya memandang perlu memelaratkan negeri ini? Tentu saja, karena jika negeri ini makmur maka akan bisa membiayai serta memperkuat diri dalam berbagai bidang, seperti bidang iptek dan industri pertahanan.
Dengan memelaratkan Indonesia, negara adidaya itu tidak perlu memperkuat pertahanan negara-negara tetangga Indonesia secara berlebihan, seperti Singapore, Malaysia dan Filipina. Sebab sesungguhnya negara Adidaya itu pun tidak begitu mempercayai tiga negara tersebut.
Kunyuk hanya bisa berharap, para teknolog Indonesia agar mulai merubah sikap budaya dan orientasinya agar lebih berpihak pada kepentingan macro nasional. Tidak mudah terayu oleh iming-iming kehidupan lebih baik di negeri rantau. Membangun negeri ini untuk kemakmuran anak cucunya akan jauh lebih berarti dan bermartabat (Medy P Sargo)
18 November, 2010
geert wilders Yang Anti Islam
Sebuah kemungkinan yang sangat kuat bahwa seorang rasialist seperti geert wilders adalah berasal dari luar peradaban manusia. Tak mengherankan jika ia memiliki pandangan berbeda soal kehidupan beragama dari pada umumnya umat manusia di muka bumi.
Yang menyelamatkan dia menjadi tampak seperti manusia dalam ujudnya adalah karena memiliki seorang ibu yang keturunan indo generasi ke-3 berasal dari Sukabumi, Indonesia.
Sang wilders, politisi Belanda dari partai yang anti Islam, tak kan mungkin dapat memahami secara benar tentang toleransi beragama, keramahan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Dia terlalu terbiasa hidup dalam lingkungan yang mengagungkan keserakahan, individualisme dan diskriminasi yang digemukkan dari hasil perampokan dan eksploitasi kekayaan bumi Indonesia selama 350 tahun.
Anehnya dalam diri makhluk-makhluk seperti wilders tidak ada perasaan berdosa. Lebih dari itu ia memang tidak mempunyai urat malu. Di akhir hidupnya nanti dia akan menyerupai daun pisang kering.
Dalam pandangan saya, orang boleh mengagungkan agamanya masing-masing. Namun yang memuakkan adalah ketika menggunakan agamanya sebagai alat untuk memusuhi suatu ras tertentu dengan dalih perbedaan yang tajam soal prinsip-prinsip agama.
Saya tidak punya prioritas untuk membela agama saya, karena saya tidak ingin terjebak oleh kebodohan yang mengandalkan amunisi pengetahuan yang dangkal akan agama. Namun dalam setiap waktu saya selalu berusaha untuk menjalankan agama saya secara benar tanpa harus memusuhi agama lain. Demikian juga harapan saya atas sikap penganut agama lain terhadap Islam.
Yang menyelamatkan dia menjadi tampak seperti manusia dalam ujudnya adalah karena memiliki seorang ibu yang keturunan indo generasi ke-3 berasal dari Sukabumi, Indonesia.
Sang wilders, politisi Belanda dari partai yang anti Islam, tak kan mungkin dapat memahami secara benar tentang toleransi beragama, keramahan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Dia terlalu terbiasa hidup dalam lingkungan yang mengagungkan keserakahan, individualisme dan diskriminasi yang digemukkan dari hasil perampokan dan eksploitasi kekayaan bumi Indonesia selama 350 tahun.
Anehnya dalam diri makhluk-makhluk seperti wilders tidak ada perasaan berdosa. Lebih dari itu ia memang tidak mempunyai urat malu. Di akhir hidupnya nanti dia akan menyerupai daun pisang kering.
Dalam pandangan saya, orang boleh mengagungkan agamanya masing-masing. Namun yang memuakkan adalah ketika menggunakan agamanya sebagai alat untuk memusuhi suatu ras tertentu dengan dalih perbedaan yang tajam soal prinsip-prinsip agama.
Saya tidak punya prioritas untuk membela agama saya, karena saya tidak ingin terjebak oleh kebodohan yang mengandalkan amunisi pengetahuan yang dangkal akan agama. Namun dalam setiap waktu saya selalu berusaha untuk menjalankan agama saya secara benar tanpa harus memusuhi agama lain. Demikian juga harapan saya atas sikap penganut agama lain terhadap Islam.
14 November, 2010
Berhentilah Berharap Pada Obama
Hentikan berharap banyak terhadap Barack Obama. !! Orang-orang yang selama ini selalu mengumandangkan harapan berlebihan terhadap Barack Obama adalah orang-orang pemalas yang datang dari Dunia Siesta.
Jangan hanya karena Obama pernah tinggal di Indonesia dan pernah memiliki ayah tiri berkebangsaan Indonesia lantas mengklaim bahwa Obama adalah bagian dari Indonesia. Sangat memalukan. Apakah kita biasa mempermalukan diri sendiri?
Hentikan semua ketololan ini. Tidak ada gunanya sebagai bangsa yang besar namun tetap memelihara mental seperti ini. Pisahkan antara mengagumi Barack Obama dengan berharap belas kasihan. Itu hanya akan menunjukkan bangsa kita adalah bangsa pengemis. Dan itu sungguh memalukan.
Kebutuhan bangsa ini harus diraih dari kerja keras, bukan dengan memelas. Bagaimana mungkin anda bisa memiliki pandangan yang benar jika berangkat dari pengaruh perasaan anda sendri yang mencoba mempersamakan dengan perasaan Obama terhadap Indonesia. Padahal bangsa ini tidak memberikan apa-apa terhadap Obama kecil dalam membangun kehidupan dan mentalnya selama 4 tahun berada di Indonesia. Bahkan bangsa ini juga melalui sistem yang ada tidak memperlakukan baik terhadap Stanley Ann Dunham atau Maya Soetoro. (Medy P. Sargo)
Jangan hanya karena Obama pernah tinggal di Indonesia dan pernah memiliki ayah tiri berkebangsaan Indonesia lantas mengklaim bahwa Obama adalah bagian dari Indonesia. Sangat memalukan. Apakah kita biasa mempermalukan diri sendiri?
Hentikan semua ketololan ini. Tidak ada gunanya sebagai bangsa yang besar namun tetap memelihara mental seperti ini. Pisahkan antara mengagumi Barack Obama dengan berharap belas kasihan. Itu hanya akan menunjukkan bangsa kita adalah bangsa pengemis. Dan itu sungguh memalukan.
Kebutuhan bangsa ini harus diraih dari kerja keras, bukan dengan memelas. Bagaimana mungkin anda bisa memiliki pandangan yang benar jika berangkat dari pengaruh perasaan anda sendri yang mencoba mempersamakan dengan perasaan Obama terhadap Indonesia. Padahal bangsa ini tidak memberikan apa-apa terhadap Obama kecil dalam membangun kehidupan dan mentalnya selama 4 tahun berada di Indonesia. Bahkan bangsa ini juga melalui sistem yang ada tidak memperlakukan baik terhadap Stanley Ann Dunham atau Maya Soetoro. (Medy P. Sargo)
Langganan:
Postingan (Atom)

