Kita hidupkan kembali spirit BERDIKARI.
Jangan sekedar slogan seperti "Indonesia Bisa", "Indonesia Bangkit",
"indonesia Hebat", atau apapun namanya. Slogan tak punya arti jika kita
seperti orang mati.
BERDIKARI, Berdiri Di atas Kaki Sendiri
(swadesi), jangan diartikan sempit hanya seputar kemampuan membuat
sesuatu dengan tangan sendiri. Tetapi harus diartikan juga sebagai
kemampuan dalam menggunakan produk-produk hasil karya bangsa sendiri.
Kita harus memiliki rasa bangga menggunakan produk bangsa sendiri.
Perkara kualitas menjadi tanggungjawab kita sendiri untuk mendorongnya
menjadi lebih baik. Jangan ragu mengkritik kelemahan produk anak negeri.
Tetapi jangan hanya mengejek. Berikan saran yang konstruktif. Anda yang
mengejek belum tentu bisa berbuat sesuatu yang lebih baik. Tetapi
sangat penting memberi koreksi pada karya di bidang apapun. Agar tidak
mudah puas dengan hasil kerja yang baru setumit kaki.
Kita tahu,
tidak ada hasil kerja yang sempurna. Perubahan selalu diperlukan untuk
menyesuaikan dengan perkembangan jaman dan berusaha mensejajari pesaing
kita di seluruh dunia. Memang saat ini masih terlalu banyak
ketertinggalan yang dialami Negeri ini. Tetapi itu pasti tak lepas dari
peran kita sebagai anak bangsa. Kita sering menyadari itu, tetapi
berhenti hanya pada keluhan atau membiarkan. Padahal tugas kita sebagai
anak bangsa bukan hanya bertanggungjawab mengurus diri kita sendiri atau
keluarga kita sendiri. Kita punya rumah besar bernama Republik Indonesia. Jika
kita hanya diam, tak ubahnya seperti rayap yang menggerogoti kayu-kayu
bangunan rumah kita hingga roboh kelak.
Hidup kita bukan berakhir
ketika kita mati. Tetapi masih ada yang harus melanjutkan cita-cita
kita, yaitu anak cucu kita. Karena itu berilah persoalan yang mudah bagi
anak cucu kita di kemudian hari. Kita harus berbuat banyak hal berguna
bagi Negeri ini, dan menyisakan sedikit saja untuk dilanjutkan anak cucu
kita.
Mari BERDIKARI. Contoh yang sederhana, tontonlah
filem-filem nasional. Tapi jika tak mau menontonnya, lalu kenapa harus
menonton filem-filem produk luar secara membabi buta. Jika itu tak
menggerogoti devisa negara, tak apa. Tapi jika sudah tak seimbang dengan
penerimaan negara di sektor perfileman, maka sesungguhnya kita sedang
bunuh diri. Itu baru di sektor perfileman sebagai bagian dari bidang
kesenian. Belum di sektor pertanian, peternakan, perkebunan, kesehatan,
pertahanan, pertambangan dan sebagainya.
Pandai-pandailah kita mensiasati
kondisi saat ini. Jangan mengukur kesehatan dan keselamatan Negeri ini
hanya dari keberadaan kita saat ini yang masih sekedar bisa makan dan
minum. Kita telah dininabobokan oleh kenikmatan dan kecukupan sekitar
puser, lalu pergi ke toilet. Kita masih punya tanggungjawab terhadap
kelangsungan hidup yang baik atas negeri ini.
INTI-nya, belanjakan uang
anda sedapat mungkin untuk membantu pertumbuhan ekonomi bangsa.
Belanjalah sesuai kebutuhan yang mampu bangsa ini penuhi. Tidak belanja
sesuai keinginan yang mampu bangsa lain sesaki. (Bersambung).
SANG JEMBATAN HATI. Aku berada di antara kemarin dan esok, dan Anda akan selalu ada di lubuk hatiku.
23 Agustus, 2016
08 November, 2015
NOSTALGIA 1
Aku tidak pernah menang dalam banyak kompetisi. Bahkan tak jarang dicurangi. Yang paling tidak terlupakan adalah ketika dalam ajang festival pop singer se Kabupaten Subang (1981) untuk memilih calon wakil pada festival tingkat Propinsi Jawa Barat, dimana Tim Juri mengumumkan aku masuk final, tetapi pada waktu akan mengikuti pengambilan nada dasar dua hari kemudian, namaku tiba-tiba hilang. Menurut Panitia yang belakangan ketahuan punya jagonya, telah terdapat kekeliruan. Nakh....pengalaman-pengalaman seperti itu yang membuatku menjadi orang yang selalu merasa jijik menghadapi orang-orang yang tidak bisa bersikap sportif.
Anehnya aku sering dapatkan sesuatu dari orang lain ketika tak ada keinginan untuk meraihnya. Satu-satunya kemenangan yang kuraih dari sebuah kompetisi adalah ketika aku bermaksud mengundurkan diri dari kontes nyanyi di masa SMP hanya karena merasa tidak pede dengan baju yang kukenakan. Lalu seorang siswi teman sekelasku menawarkan tukaran baju. Kebetulan dia mengenakan baju motif kotak-kotak ala cowboy yang sangat aku sukai pada waktu itu. Walaupun kancingnya terbalik, akhirnya aku jadi naik panggung, dan memenangkan kompetisi (1975). Terimakasih Sri Palawati. Itu nama teman SMP-ku.
10 Oktober, 2015
Hanya Karena Tuntutan Moralitas, Saya Mengungkap
Akhir 1998, dengan bekal ilmu yang diperoleh dari Battelle Memorial Institute (BMI) Amerika dan dari Japan Institute of Invention and Innovation (JIII) Jepang, saya mendesain suatu model organisasi pengelolaan hak kekayaan intelektual untuk dapat diterapkan di BPPT. Atas support Kepala Bagian Hukum BPPT (Giartono, SH) serta antusiasme Drs. Y. Subagyo, MA (Pembantu Asmen-Kemenristek) yang memfasilitasi, saya memperkenalkan model organisasi pengelolaan HKI itu kepada Prof. Sulaeman Kamil, salah satu Asmen di Kemenristek pada waktu itu. Kemudian atas permintaan beliau saya presentasikan pula di hadapan para asisten Menristek di era kepemimpinan Prof Zuhal (alm).
Setelah ada
beberapa masukan, model itu diadopsi Kemenristek dan diterapkan di ITB (1999)
dengan nama IPMO ITB. Nama yang persis digunakan di BMI. Oleh Prof. Sulaeman
Kamil kemudian diperkenalkan juga ke beberapa perguruan tinggi lain melalui program
insentif pembentukan sentra HKI. Menurut saya Prof. Sulaeman Kamil dalam
kapasitasnya yang strategis di Kemenristek memiliki jasa yang berarti dalam
menyebarluaskan sentra HKI. Walhasil banyak berdatangan rekan ke tempat saya
dari LAPAN, IPB, KIMPRASWIL (KemenPU) dan lain-lain, untuk berdiskusi dan
melakukan studi banding seputar sistem pengelolaan HKI di BPPT. Tak kurang
hampir tiap bulan saya mendapat undangan untuk mempresentasikan model
pengelolaan HKI di beberapa tempat. Itu karena rekomendasi Direktur Paten
(Emmawati Junus, SH) dan Drs. Y. Subagyo, MA.
Harus diakui
bahwa semenjak sentra-sentra HKI dibentuk melalui dukungan program insentif
Kemenristek maka jumlah aplikasi paten mulai meningkat, dan data HKI pun
terungkap di beberapa lembaga yang memiliki sentra HKI. Namun sayang, terdapat sedikit perbedaan pandangan antara Ditjen HKI dan Kemenristek dalam pendekatan sosialisasi HKI ke publik. Sejujurnya ini agak mengganggu koordinasi di antara kedua pihak. Padahal kita sedang dihadapkan pada pembangunan sistem HKI yang diharapkan dapat menciptakan situasi yang kondusif bagi pertumbuhan HKI itu sendiri.
Sengaja saya
unggah kisah ini agar tidak ada yang memutar balik sejarah. Orang-orang yang
bisa menjadi saksi sejarah Alhamdulillah hari ini masih sehat wal afiat.
Misalnya. Drs. Y. Subagyo, MA (BPPT), Giartono, SH (pensiunan BPPT), Dr.
Hidary Amru (pensiunan LIPI), Emmawati Junus, SH (pensiunan Ditjen HKI), Sri
Purwaningsih, SH (pensiunan BPPT).
Sampai akhir
2014, dalam catatan saya jumlah sentra HKI di Indonesia terdapat 113 buah
(termasuk yang mati suri). Insentif pembentukan sentra HKI telah diluncurkan
Kemenristek sejak tahun 2000. Tetapi tahun 2005 tidak terdengar lagi. Lalu
dihidupkan kembali pada tahun 2010 oleh DR. Idwan Suhardi (Deputi di
Kemenristek) dan dilaksanakan oleh DR. Sabartua Tampubolon (sekarang Direktur
Harmonisasi Regulasi dan Standarisasi pada Badan Ekonomi Kreatif).
Kiprah saya
selanjutnya sejak tahun 2011 dengan dikawal Prof. Dr. Didik Notosudjono (Asdep
Kekayaan Intelektual - Kemenristek) adalah menggagas dan mengawal proses
perumusan kebijakan nasional di bidang sistem imbalan (royalti) paten bagi
inventor berstatus PNS. Pada waktu itu saya menjabat Kepala Bidang Perguruan
Tinggi dan Lembaga Litbang di bawah asdep Kekayaan Intelektual – Kemenristek.
Alhamdulillah berhasil menggoalkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor
72/PMK.02/2015 tentang Imbalan Yang Diperoleh Dari PNBP Royalti Paten Kepada
Inventor. Walaupun PMK tersebut masih banyak dijumpai kelemahan. Namun paling
tidak bisa digunakan sebagai acuan untuk menyisihkan PNBP dari Kas Negara untuk
imbalan bagi inventor berstatus PNS.
Berikutnya
saya menggagas dan mendesain standarisasi kelembagaan sentra HKI agar sesuai dengan
perkembangan jaman. Disusul pengembangan strategi kemitraan riset yang
berorientasi pada peroleh paten. Tentu saja diperkuat masukan dari teman-teman yang
berkiprah di perguruan tinggi dan lembaga litbang. Namun keduanya masih
berproses dan belum berhasil mendorong diterbitkannya Peraturan Menteri.
Setidaknya DR. Sadjuga (Direktur Pengelolaan Kekayaan
Intelektual-Kemenristekdikti) masih bersemangat mengawal.
Ironisnya,
unit pengelolaan HKI BPPT sendiri sudah hampir 8 tahun tak nampak
perkembangannya. Seperti tak tahu arahnya mau kemana. Masih terlena dengan
jumlah permohonan paten, tetapi tak punya energi meningkatkan jumlah paten yang
bernilai ekonomi tinggi dan komersial. Saya ingin mengubahnya, tetapi biasanya
saya tidak pernah berada lama di suatu tempat setelah saya mendesain suatu
sistem ataupun prosedur. Seperti yang sudah-sudah ketika mendesain prosedur
penyiapan draf perjanjian di BPPT (2005), serta tata kelola organisasi di Pusat
Pelayanan Teknologi (BE) BPPT (2007). Tak lama setelah itu biasanya terjungkal
keluar. Tak ubahnya seperti Kopasus, hanya sebagai juru masak saja. Tak apa
kalaupun itu terjadi. Tetapi jangan sampai ada yang memutar balik sejarah. Itu
yang terpenting. Orang boleh tak ingat, tetapi saya ingat orang-orang yang tak
mengingat. Meski terkadang moral saya terusik jika muncul orang-orang yang tak
memiliki kejujuran moralitas.
Mengapa saya
ungkap masalah ini sekarang, adalah supaya dapat dicek kembali ke berbagai
pihak yang masih hidup. Artinya memungkinkan orang lain memberi koreksi sambil
disaksikan oleh pelaku-pelaku yang masih hidup. Sebab akan lain jadinya jika
saya ungkap setelah kehilangan saksi sejarah. Mohon maaf bagi yang tak
berkenan. (Medy P Sargo, Tangerang, 10 Oktober 2015).
03 April, 2015
RENUNGAN-KU
Apakah kita sedang mempermainkan Allah SWT?
Sehari-hari berpikir dan membenarkan tentang kebohongan yang kita bangun.
Bahkan dengan mudah mempercayai informasi sesat jika itu akan menguntungkan kepentingan kita.
Lalu memfitnah orang-orang yang tidak berdosa kepada kita secara pribadi,
hanya karena takut kehilangan sesuatu yang Allah pinjamkan kepada kita.
Lalu kita merasa puas.
Apakah kita benar-benar beriman?
Pada setiap usai shalat lima waktu kita masih berpikir bersekongkol
merencanakan keburukan terhadap orang lain, dengan mengatasnamakan jihad.
Apakah kita benar-benar beriman?
Sekali lagi aku bertanya, apakah kita benar-benar beriman?
Pagi ini benar-benar aku menyesali dan kecewa.
Aku sungguh membutuhkan teman-teman yang beriman.
Teman yang tidak kuukur dari perkataan kutipannya,
tetapi dari perkataannya yang terbangun dari pengalamannya dalam
mengaktualisasikan ajaran Allah SWT.
Apakah kita sedang mempermainkan Allah SWT?
Padahal betapa hinanya diri kita. Tetapi sering lupa bahwa
ada yang selalu mengetahui gerak gerik kita.
Kita sering lupa bahwa ada yang menciptakan kita.
Malah berpikir seolah-olah kita yang menciptakan Allah.
Yaa Allah....ampunilah hambaMU ini.
Ampuni kami semua. Kami ingin selamat sebagai anak bangsa.
Lindungilah kami sebagai bangsa beradab.
Berilah kami pemimpin yang amanah.
Aamiin..
05 Agustus, 2014
08 September, 2013
Renungan Untuk Calon Pemimpin Bangsa
BARACK OBAMA VS HARAPAN BANGSA PEMALAS
(Edisi Jelang Pilpres 2014)
Hanya kata “memalukan!” yang paling tepat dicirikan pada sebagian bangsa kita (termasuk di dalamnya para pengamat/tokoh politik dan ekonomi), yang menempatkan harapan terlalu tinggi pada Barack Obama sebagai Presiden terpilih Amerika Serikat.
Bagaimana tidak, mereka para pengamat/tokoh politik khususnya, menanggapi kemenangan Barack Obama sebagai keberuntungan bagi Indonesia. Mengingat kata mereka, Barry (panggilan kecil Barack Obama) adalah orang yang pernah tinggal di Indonesia pada masa kecilnya (sebenarnya tidak sampai lebih dari 3 tahun). Bahkan disinyalir pernah menganut agama Islam (agama yang dianut ayahnya berkewarganegaraan Kenya) dan diduga pernah berkewarganegaraan Indonesia sebelum akhirnya pindah dan menetap di Amerika Serikat.
Banyak di antara kita yang meramalkan (sebenarnya mengharapkan) bahwa Obama akan memperlakukan Indonesia lebih baik dari pada presiden sebelumnya, hanya karena Obama diperkirakan masih memiliki ikatan emosional dengan rakyat Indonesia. Benarkah demikian? Terlebih lagi karena Obama memiliki adik perempuan, Maya Soetoro, yang ber-ayah-kan orang Jawa.
Mungkin sebaiknya kita perlu minta pendapat Maya Soetoro, yang kini berkewarganegaraan Amerika, apakah dia sebagai anak orang Jawa memiliki kecintaan pada Indonesia? Tentu saja bukan bermaksud meragukan. Tetapi sebagai orang berkewarganegaraan Amerika wajar tentunya bila dia lebih membela kepentingan negaranya. Apalagi bagi Obama, yang hanya memiliki setetes “masa” saja menetap di Indonesia. Sementara seorang pelaku bom Bali yang note bene orang Indonesia tulen pun justru tidak memiliki beban menghianati bangsanya. Bagi Obama tentu tidaklah menjadi beban untuk tidak memikirkan Indonesia, kecuali Indonesia akan memberikan keuntungan yang jauh lebih besar dari apa yang akan Amerika berikan kepada Indonesia.
Obama yang pernah bersekolah (SD) di daerah Menteng, diangan-angankan sebagian rakyat Indonesia untuk sedikit saja “berpihak” pada Indonesia. Sesungguhnya sah-sah saja orang memiliki angan-angan demikian. Tetapi penting bagi bangsa ini untuk berpandangan realistis. Jangan terbius oleh hal-hal yang musykil. Sebab itu akan membuat bangsa ini menjadi bangsa yang pantas dipermalukan oleh diri sendiri.
Munculnya pandangan tentang “keberpihakan” Obama kepada Indonesia sesungguhnya hanya sekedar menunjukkan bahwa bangsa ini lebih mengedepankan pertimbangan-pertimbangan emosional yang sangat lemah. Barangkali pandangan tersebut boleh diakui sebagai penandaan terhadap bangsa yang lebih akrab dengan budaya KKN dan “Kemalasan”.
Bangsa yang akrab dengan KKN dan kemalasan adalah bangsa yang selalu berharap mendapat sesuatu dari perhatian orang lain tanpa ia merasa harus berusaha dengan keras. Bahayanya kalau hal itu terlalu diyakini, maka ia akan berpengaruh pada ketahanan bangsa. Bangsa ini menjadi lengah, karena merasa tidak memiliki ancaman dari luar.
Sepanjang perjalanan sejarah bangsa kita, belum pernah diuntungkan oleh kebijakan luar negeri negara-negara maju. Ini jika kita mau benar-benar main itung-itungan. Pandangan ini tidak ada hubungannya dengan benci atau tidaknya pada bangsa lain. Karena kita selalu harus menyadari tidak ada pengorbanan bangsa lain untuk lebih memajukan bangsa kita dari pada negaranya sendiri.
Mari kita simak pidato berulang-ulang Barack Obama sejak tahun 2004. Dia mengatakan bahwa tidak ada “Arab-Amerika”, tidak ada “Latin-Amerika”, yang ada adalah United State of America. Artinya Obama tidak akan melihat perbedaan dan membeda-bedakan. Dia hanya melihat bahwa yang ada adalah Amerika Serikat. Seorang Obama lebih melihat Amerika sebagai suatu negara yang utuh teritegrasi. Pernyataan tersebut bukan sekedar menegaskan bahwa Obama menentang perbedaan, tetapi juga dia lebih mengedepankan kepentingan Amerika Serikat di atas segala-galanya.
Dalam dunia politik bila ingin melindungi kepentingan negaranya maka tentu saja bila perlu menyingkirkan kepentingan negara lain dengan berbagai pendekatan. Pendekatan yang halus ataupun kasar hanyalah sebuah cara. Dan bagi negara mana pun di dunia, pastilah tidak menghendaki kepentingannya dihancurkan. Jika ada sebuah negara yang tidak menyadari bahwa kepentingannya sedang dihancurkan negara lain, itu hanya dikarenakan terlalu menyandarkan harapan pada belas kasih negara lain. Jika demikian adanya, maka benarlah bangsa ini adalah bangsa pemalas.
Bagi bangsa pemalas, barangkali tidak akan protes ketika "kakinya" diamputasi oleh ”kebaikan” negara lain yang hanya menggantinya dengan sepiring nasi untuk makan sehari. Dan jika calon pemimpin kita yang akan bertarung di Pemilu tahun 2014 masih berfikir demikian, sebaiknya tidak memberanikan diri ikut dalam bursa pencalonan pemimpin negara. Negara ini memerlukan pemimpin yang merdeka, cerdas, tegas, pantang menyerah, dan punya harga diri.
(Edisi Jelang Pilpres 2014)
Hanya kata “memalukan!” yang paling tepat dicirikan pada sebagian bangsa kita (termasuk di dalamnya para pengamat/tokoh politik dan ekonomi), yang menempatkan harapan terlalu tinggi pada Barack Obama sebagai Presiden terpilih Amerika Serikat.
Bagaimana tidak, mereka para pengamat/tokoh politik khususnya, menanggapi kemenangan Barack Obama sebagai keberuntungan bagi Indonesia. Mengingat kata mereka, Barry (panggilan kecil Barack Obama) adalah orang yang pernah tinggal di Indonesia pada masa kecilnya (sebenarnya tidak sampai lebih dari 3 tahun). Bahkan disinyalir pernah menganut agama Islam (agama yang dianut ayahnya berkewarganegaraan Kenya) dan diduga pernah berkewarganegaraan Indonesia sebelum akhirnya pindah dan menetap di Amerika Serikat.
Banyak di antara kita yang meramalkan (sebenarnya mengharapkan) bahwa Obama akan memperlakukan Indonesia lebih baik dari pada presiden sebelumnya, hanya karena Obama diperkirakan masih memiliki ikatan emosional dengan rakyat Indonesia. Benarkah demikian? Terlebih lagi karena Obama memiliki adik perempuan, Maya Soetoro, yang ber-ayah-kan orang Jawa.
Mungkin sebaiknya kita perlu minta pendapat Maya Soetoro, yang kini berkewarganegaraan Amerika, apakah dia sebagai anak orang Jawa memiliki kecintaan pada Indonesia? Tentu saja bukan bermaksud meragukan. Tetapi sebagai orang berkewarganegaraan Amerika wajar tentunya bila dia lebih membela kepentingan negaranya. Apalagi bagi Obama, yang hanya memiliki setetes “masa” saja menetap di Indonesia. Sementara seorang pelaku bom Bali yang note bene orang Indonesia tulen pun justru tidak memiliki beban menghianati bangsanya. Bagi Obama tentu tidaklah menjadi beban untuk tidak memikirkan Indonesia, kecuali Indonesia akan memberikan keuntungan yang jauh lebih besar dari apa yang akan Amerika berikan kepada Indonesia.
Obama yang pernah bersekolah (SD) di daerah Menteng, diangan-angankan sebagian rakyat Indonesia untuk sedikit saja “berpihak” pada Indonesia. Sesungguhnya sah-sah saja orang memiliki angan-angan demikian. Tetapi penting bagi bangsa ini untuk berpandangan realistis. Jangan terbius oleh hal-hal yang musykil. Sebab itu akan membuat bangsa ini menjadi bangsa yang pantas dipermalukan oleh diri sendiri.
Munculnya pandangan tentang “keberpihakan” Obama kepada Indonesia sesungguhnya hanya sekedar menunjukkan bahwa bangsa ini lebih mengedepankan pertimbangan-pertimbangan emosional yang sangat lemah. Barangkali pandangan tersebut boleh diakui sebagai penandaan terhadap bangsa yang lebih akrab dengan budaya KKN dan “Kemalasan”.
Bangsa yang akrab dengan KKN dan kemalasan adalah bangsa yang selalu berharap mendapat sesuatu dari perhatian orang lain tanpa ia merasa harus berusaha dengan keras. Bahayanya kalau hal itu terlalu diyakini, maka ia akan berpengaruh pada ketahanan bangsa. Bangsa ini menjadi lengah, karena merasa tidak memiliki ancaman dari luar.
Sepanjang perjalanan sejarah bangsa kita, belum pernah diuntungkan oleh kebijakan luar negeri negara-negara maju. Ini jika kita mau benar-benar main itung-itungan. Pandangan ini tidak ada hubungannya dengan benci atau tidaknya pada bangsa lain. Karena kita selalu harus menyadari tidak ada pengorbanan bangsa lain untuk lebih memajukan bangsa kita dari pada negaranya sendiri.
Mari kita simak pidato berulang-ulang Barack Obama sejak tahun 2004. Dia mengatakan bahwa tidak ada “Arab-Amerika”, tidak ada “Latin-Amerika”, yang ada adalah United State of America. Artinya Obama tidak akan melihat perbedaan dan membeda-bedakan. Dia hanya melihat bahwa yang ada adalah Amerika Serikat. Seorang Obama lebih melihat Amerika sebagai suatu negara yang utuh teritegrasi. Pernyataan tersebut bukan sekedar menegaskan bahwa Obama menentang perbedaan, tetapi juga dia lebih mengedepankan kepentingan Amerika Serikat di atas segala-galanya.
Dalam dunia politik bila ingin melindungi kepentingan negaranya maka tentu saja bila perlu menyingkirkan kepentingan negara lain dengan berbagai pendekatan. Pendekatan yang halus ataupun kasar hanyalah sebuah cara. Dan bagi negara mana pun di dunia, pastilah tidak menghendaki kepentingannya dihancurkan. Jika ada sebuah negara yang tidak menyadari bahwa kepentingannya sedang dihancurkan negara lain, itu hanya dikarenakan terlalu menyandarkan harapan pada belas kasih negara lain. Jika demikian adanya, maka benarlah bangsa ini adalah bangsa pemalas.
Bagi bangsa pemalas, barangkali tidak akan protes ketika "kakinya" diamputasi oleh ”kebaikan” negara lain yang hanya menggantinya dengan sepiring nasi untuk makan sehari. Dan jika calon pemimpin kita yang akan bertarung di Pemilu tahun 2014 masih berfikir demikian, sebaiknya tidak memberanikan diri ikut dalam bursa pencalonan pemimpin negara. Negara ini memerlukan pemimpin yang merdeka, cerdas, tegas, pantang menyerah, dan punya harga diri.
22 Juni, 2013
03 Mei, 2013
27 April, 2013
13 Juli, 2012
Mars IPTEK
Lyrik : Gusti Muhammad Hatta
Lagu : Medy P Sargo
Membangun Negeri tercinta asa kami
Segala daya upaya bergelora
Demi wujudkan mimpi Ibu Pertiwi
Dengan IPTEK kami berbakti
Mengukir harapan kokohkan Negeri
Kami ikhlas mengabdi sepenuh hati
Menjunjung tinggi kehormatan bangsaku
Bersinergi, berkordinasi
Jayalah IPTEK, Jayalah Negeri
Karya cemerlang bangsa gemilang
Jayalah IPTEK, Jayalah Negeri
Indonesia gemilang
Langganan:
Postingan (Atom)

