10 Oktober, 2015

Hanya Karena Tuntutan Moralitas, Saya Mengungkap



Sekaligus tulisan singkat ini untuk mengungkap sejarah cikal bakal pembentukan Unit Pengelolaan HKI yang kemudian dikenal publik dengan sebutan Sentra HKI.

Akhir 1998, dengan bekal ilmu yang diperoleh dari Battelle Memorial Institute (BMI) Amerika dan dari Japan Institute of Invention and Innovation (JIII) Jepang, saya mendesain suatu model organisasi pengelolaan hak kekayaan intelektual untuk dapat diterapkan di BPPT. Atas support Kepala Bagian Hukum BPPT (Giartono, SH) serta antusiasme Drs. Y. Subagyo, MA (Pembantu Asmen-Kemenristek) yang memfasilitasi, saya memperkenalkan model organisasi pengelolaan HKI itu kepada Prof. Sulaeman Kamil, salah satu Asmen di Kemenristek pada waktu itu. Kemudian atas permintaan beliau saya presentasikan pula di hadapan para asisten Menristek di era kepemimpinan Prof Zuhal (alm).

Setelah ada beberapa masukan, model itu diadopsi Kemenristek dan diterapkan di ITB (1999) dengan nama IPMO ITB. Nama yang persis digunakan di BMI. Oleh Prof. Sulaeman Kamil kemudian diperkenalkan juga ke beberapa perguruan tinggi lain melalui program insentif pembentukan sentra HKI. Menurut saya Prof. Sulaeman Kamil dalam kapasitasnya yang strategis di Kemenristek memiliki jasa yang berarti dalam menyebarluaskan sentra HKI. Walhasil banyak berdatangan rekan ke tempat saya dari LAPAN, IPB, KIMPRASWIL (KemenPU) dan lain-lain, untuk berdiskusi dan melakukan studi banding seputar sistem pengelolaan HKI di BPPT. Tak kurang hampir tiap bulan saya mendapat undangan untuk mempresentasikan model pengelolaan HKI di beberapa tempat. Itu karena rekomendasi Direktur Paten (Emmawati Junus, SH) dan Drs. Y. Subagyo, MA.

Harus diakui bahwa semenjak sentra-sentra HKI dibentuk melalui dukungan program insentif Kemenristek maka jumlah aplikasi paten mulai meningkat, dan data HKI pun terungkap di beberapa lembaga yang memiliki sentra HKI. Namun sayang, terdapat sedikit perbedaan pandangan antara Ditjen HKI dan Kemenristek dalam pendekatan sosialisasi HKI ke publik. Sejujurnya ini agak mengganggu koordinasi di antara kedua pihak. Padahal kita sedang dihadapkan pada pembangunan sistem HKI yang diharapkan dapat menciptakan situasi yang kondusif bagi pertumbuhan HKI itu sendiri. 

Sengaja saya unggah kisah ini agar tidak ada yang memutar balik sejarah. Orang-orang yang bisa menjadi saksi sejarah Alhamdulillah hari ini masih sehat wal afiat. Misalnya. Drs. Y. Subagyo, MA (BPPT), Giartono, SH (pensiunan BPPT), Dr. Hidary Amru (pensiunan LIPI), Emmawati Junus, SH (pensiunan Ditjen HKI), Sri Purwaningsih, SH (pensiunan BPPT).

Sampai akhir 2014, dalam catatan saya jumlah sentra HKI di Indonesia terdapat 113 buah (termasuk yang mati suri). Insentif pembentukan sentra HKI telah diluncurkan Kemenristek sejak tahun 2000. Tetapi tahun 2005 tidak terdengar lagi. Lalu dihidupkan kembali pada tahun 2010 oleh DR. Idwan Suhardi (Deputi di Kemenristek) dan dilaksanakan oleh DR. Sabartua Tampubolon (sekarang Direktur Harmonisasi Regulasi dan Standarisasi pada Badan Ekonomi Kreatif).

Kiprah saya selanjutnya sejak tahun 2011 dengan dikawal Prof. Dr. Didik Notosudjono (Asdep Kekayaan Intelektual - Kemenristek) adalah menggagas dan mengawal proses perumusan kebijakan nasional di bidang sistem imbalan (royalti) paten bagi inventor berstatus PNS. Pada waktu itu saya menjabat Kepala Bidang Perguruan Tinggi dan Lembaga Litbang di bawah asdep Kekayaan Intelektual – Kemenristek. Alhamdulillah berhasil menggoalkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK.02/2015 tentang Imbalan Yang Diperoleh Dari PNBP Royalti Paten Kepada Inventor. Walaupun PMK tersebut masih banyak dijumpai kelemahan. Namun paling tidak bisa digunakan sebagai acuan untuk menyisihkan PNBP dari Kas Negara untuk imbalan bagi inventor berstatus PNS.

Berikutnya saya menggagas dan mendesain standarisasi kelembagaan sentra HKI agar sesuai dengan perkembangan jaman. Disusul pengembangan strategi kemitraan riset yang berorientasi pada peroleh paten. Tentu saja diperkuat masukan dari teman-teman yang berkiprah di perguruan tinggi dan lembaga litbang. Namun keduanya masih berproses dan belum berhasil mendorong diterbitkannya Peraturan Menteri. Setidaknya DR. Sadjuga (Direktur Pengelolaan Kekayaan Intelektual-Kemenristekdikti) masih bersemangat mengawal.

Ironisnya, unit pengelolaan HKI BPPT sendiri sudah hampir 8 tahun tak nampak perkembangannya. Seperti tak tahu arahnya mau kemana. Masih terlena dengan jumlah permohonan paten, tetapi tak punya energi meningkatkan jumlah paten yang bernilai ekonomi tinggi dan komersial. Saya ingin mengubahnya, tetapi biasanya saya tidak pernah berada lama di suatu tempat setelah saya mendesain suatu sistem ataupun prosedur. Seperti yang sudah-sudah ketika mendesain prosedur penyiapan draf perjanjian di BPPT (2005), serta tata kelola organisasi di Pusat Pelayanan Teknologi (BE) BPPT (2007). Tak lama setelah itu biasanya terjungkal keluar. Tak ubahnya seperti Kopasus, hanya sebagai juru masak saja. Tak apa kalaupun itu terjadi. Tetapi jangan sampai ada yang memutar balik sejarah. Itu yang terpenting. Orang boleh tak ingat, tetapi saya ingat orang-orang yang tak mengingat. Meski terkadang moral saya terusik jika muncul orang-orang yang tak memiliki kejujuran moralitas.

Mengapa saya ungkap masalah ini sekarang, adalah supaya dapat dicek kembali ke berbagai pihak yang masih hidup. Artinya memungkinkan orang lain memberi koreksi sambil disaksikan oleh pelaku-pelaku yang masih hidup. Sebab akan lain jadinya jika saya ungkap setelah kehilangan saksi sejarah. Mohon maaf bagi yang tak berkenan. (Medy P Sargo, Tangerang, 10 Oktober 2015).

03 April, 2015

RENUNGAN-KU




Apakah kita sedang mempermainkan Allah SWT?
Sehari-hari berpikir dan membenarkan tentang kebohongan yang kita bangun.
Bahkan dengan mudah mempercayai informasi sesat jika itu akan menguntungkan kepentingan kita. 
Lalu memfitnah orang-orang yang tidak berdosa kepada kita secara pribadi, 
hanya karena takut kehilangan sesuatu yang Allah pinjamkan kepada kita. 
Lalu kita merasa puas.

Apakah kita benar-benar beriman?
Pada setiap usai shalat lima waktu kita masih berpikir bersekongkol
merencanakan keburukan terhadap orang lain, dengan mengatasnamakan jihad.
Apakah kita benar-benar beriman?
Sekali lagi aku bertanya, apakah kita benar-benar beriman?

Pagi ini benar-benar aku menyesali dan kecewa.
Aku sungguh membutuhkan teman-teman yang beriman.
Teman yang tidak kuukur dari perkataan kutipannya,
tetapi dari perkataannya yang terbangun dari pengalamannya dalam
mengaktualisasikan ajaran Allah SWT.

Apakah kita sedang mempermainkan Allah SWT?
Padahal betapa hinanya diri kita. Tetapi sering lupa bahwa
ada yang selalu mengetahui gerak gerik kita.
Kita sering lupa bahwa ada yang menciptakan kita.
Malah berpikir seolah-olah kita yang menciptakan Allah.

Yaa Allah....ampunilah hambaMU ini.
Ampuni kami semua. Kami ingin selamat sebagai anak bangsa.
Lindungilah kami sebagai bangsa beradab.
Berilah kami pemimpin yang amanah.
Aamiin..

08 September, 2013

Renungan Untuk Calon Pemimpin Bangsa

BARACK OBAMA VS HARAPAN BANGSA PEMALAS
(Edisi Jelang Pilpres 2014)

Hanya kata “memalukan!” yang paling tepat dicirikan pada sebagian bangsa kita (termasuk di dalamnya para pengamat/tokoh politik dan ekonomi), yang menempatkan harapan terlalu tinggi pada Barack Obama sebagai Presiden terpilih Amerika Serikat.

Bagaimana tidak, mereka para pengamat/tokoh politik khususnya, menanggapi kemenangan Barack Obama sebagai keberuntungan bagi Indonesia. Mengingat kata mereka, Barry (panggilan kecil Barack Obama) adalah orang yang pernah tinggal di Indonesia pada masa kecilnya (sebenarnya tidak sampai lebih dari 3 tahun). Bahkan disinyalir pernah menganut agama Islam (agama yang dianut ayahnya berkewarganegaraan Kenya) dan diduga pernah berkewarganegaraan Indonesia sebelum akhirnya pindah dan menetap di Amerika Serikat.

Banyak di antara kita yang meramalkan (sebenarnya mengharapkan) bahwa Obama akan memperlakukan Indonesia lebih baik dari pada presiden sebelumnya, hanya karena Obama diperkirakan masih memiliki ikatan emosional dengan rakyat Indonesia. Benarkah demikian? Terlebih lagi karena Obama memiliki adik perempuan, Maya Soetoro, yang ber-ayah-kan orang Jawa.

Mungkin sebaiknya kita perlu minta pendapat Maya Soetoro, yang kini berkewarganegaraan Amerika, apakah dia sebagai anak orang Jawa memiliki kecintaan pada Indonesia? Tentu saja bukan bermaksud meragukan. Tetapi sebagai orang berkewarganegaraan Amerika wajar tentunya bila dia lebih membela kepentingan negaranya. Apalagi bagi Obama, yang hanya memiliki setetes “masa” saja menetap di Indonesia. Sementara seorang pelaku bom Bali yang note bene orang Indonesia tulen pun justru tidak memiliki beban menghianati bangsanya. Bagi Obama tentu tidaklah menjadi beban untuk tidak memikirkan Indonesia, kecuali Indonesia akan memberikan keuntungan yang jauh lebih besar dari apa yang akan Amerika berikan kepada Indonesia.

Obama yang pernah bersekolah (SD) di daerah Menteng, diangan-angankan sebagian rakyat Indonesia untuk sedikit saja “berpihak” pada Indonesia. Sesungguhnya sah-sah saja orang memiliki angan-angan demikian. Tetapi penting bagi bangsa ini untuk berpandangan realistis. Jangan terbius oleh hal-hal yang musykil. Sebab itu akan membuat bangsa ini menjadi bangsa yang pantas dipermalukan oleh diri sendiri.

Munculnya pandangan tentang “keberpihakan” Obama kepada Indonesia sesungguhnya hanya sekedar menunjukkan bahwa bangsa ini lebih mengedepankan pertimbangan-pertimbangan emosional yang sangat lemah. Barangkali pandangan tersebut boleh diakui sebagai penandaan terhadap bangsa yang lebih akrab dengan budaya KKN dan “Kemalasan”.

Bangsa yang akrab dengan KKN dan kemalasan adalah bangsa yang selalu berharap mendapat sesuatu dari perhatian orang lain tanpa ia merasa harus berusaha dengan keras. Bahayanya kalau hal itu terlalu diyakini, maka ia akan berpengaruh pada ketahanan bangsa. Bangsa ini menjadi lengah, karena merasa tidak memiliki ancaman dari luar.

Sepanjang perjalanan sejarah bangsa kita, belum pernah diuntungkan oleh kebijakan luar negeri negara-negara maju. Ini jika kita mau benar-benar main itung-itungan. Pandangan ini tidak ada hubungannya dengan benci atau tidaknya pada bangsa lain. Karena kita selalu harus menyadari tidak ada pengorbanan bangsa lain untuk lebih memajukan bangsa kita dari pada negaranya sendiri.

Mari kita simak pidato berulang-ulang Barack Obama sejak tahun 2004. Dia mengatakan bahwa tidak ada “Arab-Amerika”, tidak ada “Latin-Amerika”, yang ada adalah United State of America. Artinya Obama tidak akan melihat perbedaan dan membeda-bedakan. Dia hanya melihat bahwa yang ada adalah Amerika Serikat. Seorang Obama lebih melihat Amerika sebagai suatu negara yang utuh teritegrasi. Pernyataan tersebut bukan sekedar menegaskan bahwa Obama menentang perbedaan, tetapi juga dia lebih mengedepankan kepentingan Amerika Serikat di atas segala-galanya.

Dalam dunia politik bila ingin melindungi kepentingan negaranya maka tentu saja bila perlu menyingkirkan kepentingan negara lain dengan berbagai pendekatan. Pendekatan yang halus ataupun kasar hanyalah sebuah cara. Dan bagi negara mana pun di dunia, pastilah tidak menghendaki kepentingannya dihancurkan. Jika ada sebuah negara yang tidak menyadari bahwa kepentingannya sedang dihancurkan negara lain, itu hanya dikarenakan terlalu menyandarkan harapan pada belas kasih negara lain. Jika demikian adanya, maka benarlah bangsa ini adalah bangsa pemalas.

Bagi bangsa pemalas, barangkali tidak akan protes ketika "kakinya" diamputasi oleh ”kebaikan” negara lain yang hanya menggantinya dengan sepiring nasi untuk makan sehari. Dan jika calon pemimpin kita yang akan bertarung di Pemilu tahun 2014 masih berfikir demikian, sebaiknya tidak memberanikan diri ikut dalam bursa pencalonan pemimpin negara. Negara ini memerlukan pemimpin yang merdeka, cerdas, tegas, pantang menyerah, dan punya harga diri.

13 Juli, 2012

Mars IPTEK

Lyrik : Gusti Muhammad Hatta
Lagu : Medy P Sargo


Membangun Negeri tercinta asa kami
Segala daya upaya bergelora
Demi wujudkan mimpi Ibu Pertiwi
Dengan IPTEK kami berbakti

Mengukir harapan kokohkan Negeri
Kami ikhlas mengabdi sepenuh hati
Menjunjung tinggi kehormatan bangsaku
Bersinergi, berkordinasi

Jayalah IPTEK, Jayalah Negeri
Karya cemerlang bangsa gemilang
Jayalah IPTEK, Jayalah Negeri
Indonesia gemilang

-- Dikumandangkan pertamakalinya pada tanggal 1 Juni 2012 di Auditorium BPPT pada Acara Deklarasi Zona Bebas dari Korupsi di lingkungan Kementerian Riset dan Teknologi dan Lembaga Pemerintah Non Kementerian di bawah koordinasi Kemenristek. --



06 Juli, 2012

Mobil Listrik, Mustahil Tanpa Paten

Kegemasan saya pada sikap budaya peneliti yang kurang peduli pada masalah
paten, tergambar pada artikel saya tentang "Pengganti Mobil Konvensional"
yang dimuat di Koran-Jakarta tanggal 4 Juli 2012. Suatu kenyataan bahwa
paten tidak dianggap penting, dan selalu dianggap hanya sebuah persoalan
hukum. Padahal konsep paten mengajarkan kepada kita bahwa ketika kita
menghasilkan suatu invensi maka harus berani untuk dibuktikan
ke-"baruan"-nya sebelum kita terlanjur memperdagangkannya yang bisa
mengundang tuntutan hukum dari pihak lain.

Yang tertarik silahkan klik: 
 
http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/94817

04 Juni, 2011

Lyrik : HYMNE INSAN IPTEK

Lyrik dan Lagu : Medy P Sargo


INSAN IPTEK INDONESIA BERJAYA
KAU ABDIKAN ILMU PADA NUSA BANGSA
JASAMU ABADI 'TUK SELAMANYA
ENGKAU WUJUDKAN HARAPAN BANGSAMU

INSAN IPTEK YANG BERAKHLAK MULIA
KIPRAHMU MENGILHAMI SELURUH NEGERI
INOVASIMU SUMBANGSIHMU
PADA NEGERIMU HINGGA SEJAHTERA

WAHAI INSAN IPTEK YANG MULIA
KAN KUKENANG 'TUK SLAMA-LAMANYA
DI ANTARA GEMPITA IPTEK DUNIA
KAU HADIR MENGHARUMKAN BANGSA

INSAN IPTEK INDONESIA BERJAYA
KAU ABDIKAN ILMU PADA NUSA BANGSA
JASAMU ABADI 'TUK SELAMANYA
ENGKAU WUJUDKAN HARAPAN BANGSAMU (2 X)


(Dikumandangkan pertamakalinya pada 10 Agustus 2011 di PUSPIPTEK Serpong dalam rangka Peringatan HAKTEKNAS yang dihadiri Presiden RI.)

28 Mei, 2011

Lyrik "Gemilang Bangsa" : Mars BPPT

Lyrik : Marzan A. Iskandar
Lagu : Medy P. Sargo

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
Mengemban tugas bangsa Indonesia
Kembangkan Teknologi demi kemandirian bangsa
Dilandasi iman dan taqwa kepada Tuhan

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
Wujud semangat bangsa mengejar cita
Menyokong dan mengisi pembangunan negeri kita
Gunakan teknologi tuk kejayaan bangsa

Bersatu padulah perekayasa teknologi
Bahu membahu mewujudkan cita-cita bangsa
Teguh kukuh menempuh haluan
Menghimpun segala daya
Berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang
Dasar Empat Lima

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
Wujud semangat bangsa mengejar cita
Menyokong dan mengisi pembangunan negeri kita
Gemilanglah bangsaku Indonesia

(Dikumandangkan pertamakalinya pada 16 Agustus 2009 di PUSPIPTEK Serpong dalam rangka memeriahkan Peringatan HUT BPPT ke 31)

15 Mei, 2011

Dahlan Iskan Bicara, Dengarkan !

Di bawah ini adalah tulisan Pak Dahlan Iskan, Direktur Utama PLN. Saya peroleh dari tetangga dan saya copas, tanpa terlebih dahulu minta ijin Pak Dahlan. Tetapi saya berani menanggung akibatnya jika Pak Dahlan tidak berkenan. Saya terdorong oleh tulisannya tersebut untuk menyebarkan agar diketahui oleh anak bangsa, khususnya mereka yang begitu memuja negara-negara liberal. Banyak pesan yang tersurat dan tersirat dari tulisan Pak Dahlan ini. Bagi kita semua sudah waktunya membuka mata dan melihat kenyataan yang dihadapi Indonesia, mulai dari kerakusan ”mitra (?)” dagang dan ”kebodohan=ketidak berdayaan” para pengambil keputusan di negeri ini menghadapi kebijakan luar negeri negara-negara adi kuasa. Silahkan simak. Jika anda kemudian menyalahkan para pengambil keputusan, silahkan, saya mungkin sependapat. Tetapi jika anda menyalahkan bangsa ini secara keseluruhan, maka anda adalah.......... (pikirkan sendiri).

KUASAI TEKNOLOGI PEMBANGKIT CANGGIH SAAT KEPEPET

Jum’at, 06 Mei 2011

Baru sekali ini saya ke Iran. Kalau saja PLN tidak mengalami kesulitan mendapatkan gas dari dalam negeri, barangkali tidak akan ada pikiran untuk melihat kemungkinan mengimpor gas dari Negara Para Mullah ini. Sudah setahun lebih PLN berjuang untuk mendapatkan gas dari negeri sendiri. Tapi, hasilnya malah sebaliknya. Jatah gas PLN justru diturunkan terus-menerus.

Kalau awal 2010 PLN masih mendapatkan jatah gas 1.100 MMSCFD (million metric standard cubic feet per day atau juta standar metrik kaki kubik per hari), saat tulisan ini dibuat justru tinggal 900 MMSCFD. Perjuangan untuk mendapatkan tambahan gas yang semula menunjukkan tanda-tanda berhasil belakangan redup kembali. Gas memang sulit diraba sehingga tidak bisa terlihat ke mana larinya.

Bisa jadi gas itu akan berbelok-belok dulu entah ke mana, baru dari sana dijual ke PLN dengan harga yang sudah berbeda. Padahal, PLN memerlukan 1,5 juta MMSCFD gas. Kalau saja PLN bisa mendapatkan gas sebanyak itu, penghematannya bisa mencapai Rp 15 triliun setiap tahun. Angka penghematan yang mestinya menggiurkan siapa pun.Maka, saya memutuskan ke Iran. Apalagi, upaya mengatasi krisis listrik sudah berhasil dan menuntaskan daftar tunggu yang panjang itu pasti bisa selesai bulan depan.

Kini waktunya perjuangan mendapatkan gas ditingkatkan. Termasuk, apa boleh buat, ke negara yang sudah sejak 1980-an diisolasi oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya itu. Siapa tahu ada harapan untuk menyelesaikan persoalan pokok PLN sekarang ini: efisiensi.

Sumber pemborosan terbesar PLN adalah banyaknya pembangkit listrik yang “salah makan”. Sekitar 5.000 MW pembangkit yang seharusnya diberi makan gas sudah puluhan tahun diberi makan minyak solar yang amat mahal. Salah makan itulah yang membuat kembung perut PLN selama ini.

Kebetulan Iran memang sedang memasarkan gas dalam bentuk cair (LNG). Iran sedang membangun proyek LNG besar-besaran di kota Asaleuyah di pantai Teluk Parsi. Saya ingin tahu benarkah proyek itu bisa jadi "Bukankah Iran sudah 30 tahun lebih dimusuhi dan diisolasi secara ekonomi oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya dari seluruh dunia” Bukankah begitu banyak yang meragukan Iran bisa mendapatkan teknologi tinggi untuk membangun proyek LNG besar-besaran?

Saya pun terbang ke Asaleuyah, dua jam penerbangan dari Teheran. Meski Asaleuyah kota kecil, ternyata banyak sekali penerbangan ke kota yang hanya dipisahkan oleh laut 600 km dari Qatar itu. Bandaranya kecil, tapi cukup baik. Masih baru dan statusnya internasional. Pesawat-pesawat lokal, seperti Aseman Air, terbang ke sana. Itulah kota yang memang baru saja berkembang dengan pesatnya. Iran memang menjadikan kota Asaleuyah sebagai pusat industri minyak, gas, dan petrokimia. Beratus-ratus hektare tanah di sepanjang pantai itu kini penuh dengan rangkaian pipa-pipa kilang minyak, kilang petrokimia, dan instalasi pembuatan LNG.

Saya heran bagaimana Iran bisa mendapatkan semua teknologi itu pada saat Iran sedang diisolasi oleh dunia Barat. Memang terasa jalannya proyek tidak bisa cepat, tapi sebagian besar sudah jadi. Kilang minyaknya, kilang petrokimianya, kilang etanolnya sudah beroperasi dalam skala yang raksasa. Hanya kilang LNG-nya yang masih dalam pembangunan dan kelihatannya akan selesai dua tahun lagi. Memang, kalau saja Iran tidak diembargo, proyek-proyek itu pasti bisa lebih cepat. Namun, Iran tidak menyerah. Iran membuat sendiri banyak teknologi yang dibutuhkan di situ. Hanya bagian-bagian tertentu yang masih dia datangkan dari luar. Entah dengan cara apa dan entah lewat mana. Yang jelas, barang-barang itu bisa ada. Orang, kalau kepepet, biasanya memang banyak akalnya. Asal tidak mudah menyerah. Demikian juga, Iran.

Bahkan, untuk memenuhi keperluan listrik untuk industri petrokimia itu, Iran akhirnya bisa membuat pembangkit sendiri. Termasuk bisa membuat bagian yang paling sulit di pembangkit listrik: turbin. Maka, Iran kini sudah berhasil menguasai teknologi pembangkit listrik tenaga gas, baik open cycle maupun combine cycle.

Kemampuan membuat pembangkit listrik itu pun semula agak saya ragukan. Belum pernah terdengar ada negara Islam yang mampu membuat pembangkit listrik secara utuh. Karena itu, setelah meninjau proyek LNG, saya minta diantar ke pabrik turbin itu. Saya ingin melihat sendiri bagaimana Iran dipaksa keadaan untuk mengatasi sendiri kesulitan teknologinya. Ternyata benar. Pabrik turbin itu sangat besar. Bukan hanya bisa merangkai, tetapi juga membuat keseluruhannya. Bahkan, sudah mampu membuat blade-blade turbin sendiri. Termasuk mampu menguasai teknologi coating blade yang bisa meningkatkan efisiensi turbin.

Baru sepuluh tahun Iran menekuni alih teknologi pembangkit listrik itu.Sekarang Iran sudah memproduksi 225 unit turbin dari berbagai ukuran. Mulai 25 MW hingga 167 MW. Bahkan, Iran sudah mulai mengekspor turbin ke Lebanon, Syria, dan Iraq. Bulan depan sudah pula mengekspor suku cadang turbin ke India. Bulan lalu pabrik turbin Iran merayakan produksi blade-nya yang ke-80.000 unit! Kesimpulan saya: inilah negara Islam pertama yang mampu membuat turbin dan keseluruhan pembangkit listriknya. Saya dan rombongan PLN diberi kesempatan meninjau semua proses produksinya. Mulai A hingga Z. Termasuk memasuki laboratorium metalurginya.

Dengan kemampuannya itu, untuk urusan listrik, Iran bisa mandiri.Bahkan, untuk pemeliharaan pembangkit-pembangkit listrik yang lama, Iran tidak bergantung lagi kepada pabrik asalnya. Mesin-mesin Siemens lama dari Jerman atau GE dari USA bisa dirawat sendiri. Iran sudah bisa memproduksi suku cadang untuk semua mesin pembangkit Siemens dan GE. Bahkan, mereka sudah dipercaya Siemens untuk memasok ke negara lain. “Anak perusahaan kami sanggup memelihara pembangkit-pembangkit listrik PLN dengan menggunakan suku cadang dari sini,” kata manajer di situ.

Pabrik tersebut memiliki 32 anak perusahaan, masing-masing menangani bidang yang berbeda di sektor listrik. Termasuk ada anak perusahaan yang khusus bergerak di bidang pemeliharaan dan operasi pembangkitan.Bisnis kelihatannya tetap bisnis. Saya tidak habis pikir bagaimana Iran tetap bisa mendapatkan alat-alat produksi turbin berupa mesin-mesin dasar kelas satu buatan Eropa: Italia, Jerman, Swiss, dan seterusnya. Saya juga tidak habis pikir bagaimana pabrik pembuatan turbin itu bisa mendapatkan lisensi dari Siemens.

Rupanya, meski membenci Amerika dan sekutunya, Iran tidak sampai membenci produk-produknya. Iran membenci Amerika hanya karena Amerika membantu Israel. Itu jauh dari bayangan saya sebelum datang ke Iran. Saya pikir Iran membenci apa pun yang datang dari Amerika. Ternyata tidak. Bahkan, Coca-Cola dijual secara luas di Iran. Demikian juga, Pepsi dan Miranda. Belum lagi Gucci, Prada, dan seterusnya.Intinya: dengan diembargo Amerika Serikat dan sekutunya, Iran hanya mengalami kesulitan pada tahun-tahun pertamanya. Kesulitan itu membuat Iran kepepet, bangkit, dan mandiri. Kesulitan itu tidak sampai membuatnya miskin, apalagi bangkrut. Justru Iran dipaksa menguasai beberapa teknologi yang semula menjadi ketergantungannya.

Banyaknya proyek yang sedang dikerjakan sekarang menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi Iran terus berjalan. Mulai pengembangan bandara di mana-mana, pembangunan jalan laying, hingga ke industri dasar. Tidak ketinggalan pula industri mobil.

Kegiatan ekonomi di Iran memang tidak gegap gempita seperti Tiongkok, tapi tetap terasa menggeliat. Pertumbuhan ekonominya sudah bisa direncanakan enam persen tahun ini. Mulai meningkat drastis jika dibandingkan dengan tahun-tahun pertama sanksi ekonomi diberlakukan. “Sebelum ada sanksi ekonomi, Iran hanya mampu memproduksi 300.000 mobil setahun. Sekarang ini Iran memproduksi 1,5 juta mobil setahun,” ujar seorang CEO perusahaan terkemuka di Iran. (bersambung)

Dahlan Iskan
CEO PLN

22 Maret, 2011

Cat Minyak Indonesia



Cat Minyak Indonesia



Kita adalah cat minyak yang siap digoreskan pada kanvas putih masa depan

Kanvas putih masa depan Indonesia, walau tidak seputih yang kau harapkan

Tergantung kau, warna apa yang hendak kau berikan pada anak-anakmu

 

Aku juga adalah cat minyak yang kau campurkan di atas palet

Kau tuangkan cat berwarna merah, biru, kuning, hitam dan putih

Entah apa yang akan kau lukiskan di atas kanvas putih itu


Kau juga adalah cat minyak yang akan kucampurkan di atas palet


Sementara aku adalah cat minyak yang berwarna pucat, dan kau ?

Sementara aku adalah ekspresi keterpurukan dan kegagalan, dan kau ?


Kita adalah cat minyak berupa-rupa warna yang memberi kekuatan

Kau, menyatulah denganku agar kita menjadi lukisan indah Indonesia.

( Medy P Sargo, Tangerang, 17 Nov 2010)